Maha Baik
Sejak anak-anak, minna-san pasti sering banget kan ditanyain "cita-citanya mau jadi apa?"
Jawabannya beragam, ada yang konsisten dan berubah-berubah seiring bertambah dewasa dan mengalami banyak proses hidup.. Hari ini mau jadi guru, besok mau jadi dokter, dewasa dikit mau jadi PNS, pas kuliah semester akhir "mau nikah aja" wkwkwkwk
Aku termasuk kategori yang berubah-ubah, pas kecil mau jadi guru, besar dikit mau jadi dosen, tapi kadang kalo lagi stress kuliah jawabnya mau nikah aja hehe, tapi karena sadar pacar aja gak ada yaudah balik ke cita-cita awal buat jadi pengajar. Mau jadi dokter, tapi sadar orang tua mungkin akan susah wkwk, mau jadi PNS tapi sadar males belajar dan berusaha, jadilah aku membentuk diri untuk mewujudkan menjadi apa yang aku impikan, iya jadi pengajar, alasannya? klasik, "mau jadi manusia bermanfaat".
"Bermanfaat kan bisa dalam bentuk apapun, gak harus ngajar"
"Ya, tapi yang bertanggung jawab sama hidup ku kan aku sendiri, jadi aku maunya ngajar titik."
Dasar ngeyel (aku)! wkwkwk
Idih gak gampang, sampe jungkir balik rasanya melalui peroses menuju itu, dihampiri keraguan dan ketakutan.
Sampe akhirnya entah kenapa Tuhan menuntun ku pada jalur yang amat panjang, dengan banyak singgahan, pertemuan dan perpisahan. Hingga kini akhirnya, aku menyadari jalur yang Tuhan tunjukkan, jalur yang membawa ku pada impiannku dimasa lalu. Mimpi yang sempat aku lupakan, mimpi yang sempat aku ikhlaskan, mimpi yang aku hampir hiraukan ditengah jalan karena ketakutan dan kegagalan yang berulang-kali Tuhan berikan. Setiap diri ini berbisik untuk berhenti dan menyerah, selalu ada hal yang Tuhan tunjukkan hingga kaki akhirnya terus kuat melangkah. Selalu. Selalu ada petunjuk, semakin berserah, semakin diberi perunjuk. Rasanya, selalu ada jawaban cepat atas doa-doa ku.
Aku sadar betul setelahnya, bahwa proses hidup ini bukan kebetulan, melainkan skenario panjang yang diberikan Tuhan untuk aku lalui. Apakah aku yakin atas apa yang aku pilih dan inginkan, Akankah keyakinan itu membawa ku pada kebaikan atau sebaliknya, Mungkinkan sedikit ujian akan membuatku menyerah. Tuhan gak peduli sebarapa ngeyel kita akan pilihan kita dalam hidup, si Maha Baik ini selalu tau yang terbaik.
Memahami hubungan dengan Maha Baik ini perlu kesadaran rasa, bukan lagi logika, karena kebaikan serta takdir yang diberikan pun sudah melampaui logika berfikir kita sebagai manusia. Kalau aja aku selalu pakai logika, mungkin perjalananku mandeg karena ga paham maksud Tuhan. Spiritual banget ya? Ya dong! karena menurut ku setiap proses dalam hidup kita selalu disertai Tuhan. Kita manusia ini serba terbatas, bisa apa kalo tanpa Tuhan. hehe
Bukan berarti yang nulis ga punya salah ya! wkwk duh banyak, tapi begitu baiknya Tuhan, selalu kasih maaf dan benerin jalur kita.
Aku selalu belajar,
Untuk segala hal yang menjadi impian kita, niatkan itu untuk hal-hal baik, yang mungkin juga merefleksikan tujuan kita dalam hidup, sekecil apapun kebaikan itu, Tuhan yang akan membantu menuntun setiap niat baik itu menjadi kebaikan yang lebih nyata,
Tidak perlu lagi menunggu besok untuk memulai, meski dengan langkah yang amat kecil, memulai lebih baik daripada diam,
Kemampuan-mu yang kamu anggap ga seberapa dan menjadi ketakutan mu itu bukan menjadi tugas mu untuk menimbang apakah hal tersebut melampaui kualifikasi mu atas apa yang kamu impikan,
Karaguan orang lain akan diri mu, toh tidak mengganggu penilaian Tuhan untuk memutuskan takdirmu,
Bukan, bukan maksudnya meminta untuk terlalu yakin pada diri sendiri, cuma setidaknya, menurutku, hal paling sederhana untuk menunjukan perasaan kita pada Tuhan adalah meyakini kemampuan pada diri sendiri karena seluruh jiwa dan raga serta karunia yang ada didalam diri ini merupakan pemberian-Nya.
Untuk menjadi cahaya bagi orang lain, kamu harus terlebih dahulu jadi cahaya untuk dirimu sendiri, kan?
頑張りましょう!
Comments
Post a Comment